mau pinter, nak ?

Beberapa hari yang lalu mas riza pupnya sedikit mengkhawatirkan, berwarna hijau dan sedikit cair. Maklumlah ibu baru, disini juga cuma sama suami n anak, jadilah panik n sms sana-sini. Mulai dari sahabat, kakak bahkan ke bidan yang membantu kelahiran mas riza. bukannya saya ga mau ke dokter, cuma saya sendiri sadar, apapun yang berhubungan dengan mas riza gampang sekali bikin saya panik dan kebakaran jenggot. Memang sih, anakna sendiri ngga rewel atau demam. Cuma intensitas pup dan warnanya yang membuat saya bertanya-tanya.

Saya pun mengingat-ingat lagi makanan yang saya konsumsi sebelumnya, karena baru beberapa minggu kami pindah ke ibukota -halah- jadi mungkin mas riza masih dalam proses adaptasi atau penyesuaian lingkungan, udara atau bahan makanan. Sampai akhirnya saya pun berpikir bahwa makanan yang saya konsumsi tidaklah higienis. Jujur saya, mungkin karena terlalu banyak menonton informasi televisi, saya jadi takut makanan ini mengandungboraks, makanan itu mengandung anu..Hayah, justru karena takut ini itu saya malah jadi bingung mau makan apa. Eh, loh ko bahas makanan. Ya sudahlah, dan sms yang melegakan hati pun datang, kalo kata budhe na mas riza “gpp, masih normal, mau pinter itu makanya ngentengin badan” dalam hati pun “aamiin..” , dari sahabat ” gpp bu, tar ke dokternya kalo pupnya sering aja”, dari bidan “selama belum cair masih aman, normal itu mba, mungkin udara lagi dingin aja”🙂 alhamdulillah, “kepanikan” pun sedikit terobati. Dan eyangnya pun mengiyakan, “kalo mau tambah pinter kalo ngga demam ya mencret”.

Tapi apa iya moms, kalo anak mau pinter tuh kalau ngga demam ya diare ? duh, kasian donk kalau gitu😦 dari hasil menjelajah internet -halah- browsing maksudte, mitos itu memang bisa dipercaya atau tidak. Berhubung saya sendiri new mom, punya anak baru 1 jadi saya tidak bisa mengiyakan atau menolak mitos itu🙂 bagi sebagian moms yang percaya, setelah anak mereka demam atau diare, ada 1 tambahan kepintaran yang dimilki, entah itu merangkak, berjalan, tumbuh gigi, atau sekedar pintar tengkurap. Berhubung mas Riza baru 4,5 bulan ( 5 bulan minggu depan :D) dan tanda-tandanya menunjukkan dia mau merangkak jadi yah saya percaya aja. Karena katana kalo kita panik atau stress, bisa ngaruh ke baby🙂 jangan sampai donk. Jadi saya ber-sugesti kalo mas riza mau nambah pinter😀

Bukan berarti juga kita mengabaikan kesehatannya lho moms, kalau demam atau diare nya berkelanjutan wajib ke dokter tuh🙂 jangan sampai kecolongan. Kasian kan kalo anak dehidrasi tanpa kita ketahui. Kadang orang menghubungkan antara diare dengan anak akan menjadi “pinter” merangkak, berjalan atau tumbuh gigi. Apa iya? meskipun dari sudut pandang medis hal ini sulit diterima. Tetapi jika akan tumbuh gigi memang kadang disertai dengan demam, hal ini terjadi karena adanya radang saat gigi akan tumbuh. 

Buat saya, karena mas riza saya beri ASI ekslusif, biasanya kalau dia demam atau diare, memperbanyak pemberian ASI🙂 efektif juga lho.  Karena zat kekebalan yang dibawa ASI tentu bukan hanya bakteri baik, tapi ada aneka sel darah putih dengan macam-macam fungsi dalam jumlah berlimpah mulai dari anti-in26feksi, anti radang, pelapis usus, anti alergi dan sebagainya.

Nah, setelah berusia 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan pendamping alami. Apakah yang terkandung dalam makanan pendamping alami yang tidak akan terdapat dalam makanan olahan pabirk? Enzim, vitamin dan mineral alami yang juga punya daya perlidungan luar biasa bagi bayi.

 Secara umum ketika usia 6 bulan, bayi akan mulai sakit ringan yang ditandai dengan gejala seperti batuk, pilek, demam dan diare atau muntah. Hal ini disebabkan oleh zat kekebalan dari ibu yang telah mulai menurun kadarnya, ASI yang mulai tergantikan dengan makanan pendamping ASI serta mobilitas / pergerakan bayi yang mulai meningkat. Batuk, pilek, demam dan diare dialami semua bayi karena ini adalah bagian dari tumbuh kembang bayi. Coba deh moms perhatiin, adakah balita di atas usia 6 bulan yang sama sekali tidak pernah batuk pilek demam dan diare?

Namun, apakah yang umumnya terjadi pada bayi di saat ia sakit? Orangtua akan membawanya ke fasilitas kesehatan (dokter atau bidan) dan sepulang dari dokter / bidan orangtua akan dibekali dengan satu atau lebih obat. Puyer berisikan beberapa obat yang disatukan disertai sirup anti demam umumnya diberikan. Antibiotik tak lupa disertakan, dapat disertakan dalam puyer atau pun dalam bentuk sirup yang terpisah. Lihatlah 2 contoh resep di bawah ini:

Resep yg sisi kiri diberikan pada bayi 1 bulan, ASI eksklusif, dgn keluhan “flu”. Resep sisi kanan diberikan pada bayi 3 bulan, ASI eksklusif, dengan diare akut, tanpa perdarahan. Rasionalkah? Kedua resep puyer ini mengandung Luminal, obat anti kejang, untuk apa bayi batuk pilek atau diare dapat obat anti kejang? Efek sampingnya amat berbahaya: perlambatan irama jantung, tekanan darah rendah, henti napas dan depresi sistem saraf pusat. Rewel bukan indikasi pemberian obat anti kejang, rewel lumrah terjadi saat sakit, tenangkan dengan menyusui. Kedua resep ini juga mengandung antibiotik (eritrhomycin dan nifural) yang sama sekali tidak diperlukan. Obat-obat lain dalam resep ini juga tidak ada pada pedoman batuk pilek dan diare tanpa perdarahan.

Gejala batuk pilek demam dan diare sebagian besar disebabkan oleh virus. Virus ini pada umumnya adalah self limiting disease atau sembuh sendiri. Sementara antibiotik HANYA dapat mematikan atau melemahkan bakteri, bukan virus. Antibiotik tidak dapat mengenali mana bakteri baik dan mana yang jahat, sehingga bakteri baik akan selalu ikut dihantam oleh antibiotic yang dikonsumsi anak kita. Sia-sia lah usaha mengumpulkan bakteri baik dari proses IMD dan ASI eksklusif. Semakin sering anak minum antibiotik, semakin sering ia sakit, karena berkurangnya bakteri baik yang membantu pertahanan tubuh. Penggunaan antibiotik secara tidak rasional juga menyebabkan timbulnya resistensi atau berubahnya sifat bakteri menjadi tahan terhadap antibiotik sehingga suatu saat kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan. Antibiotik menyelamatkan hidup, maka kita harus menyelamatkan antibiotik dengan menggunakannya secara rasional. Bila tidak ada indikasi untuk pemberian antibiotik, STOP segera, tidak ada isitilah “terlanjur minum antibiotik”, sebaliknya bila memang ada indikas taati aturan minumnya dengan baik.

Moms, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam tubuh (infeksi virus). Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk. Begitu juga dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang diproduksi hidung. Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti bahwa ada infeksi bakteri. Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan. Bila hidung tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.

Bagaimana dengan demam ? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman. Benar bahwa demam dapat menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam hanya bila suhu di atas 38,5&derC (pada anak usia 1 tahun atau lebih). Diare akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak tidaklah dianjurkan oleh WHO. Tata laksana diare yang utama adalah mengganti cairan yang keluar. ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat diberikan jika diperlukan.

Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya telah lama ada. WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada, rasionalitas tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih terarah. Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu. Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi (vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?).

Tahu ngga moms, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan obat berbentuk puyer. Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan bayi kita. Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan yang saya ceritakan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk obat anti demam bila ada indikasi. Jadi setiap kunjungan ke tenaga kesehatan, pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.

ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi ini. Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi anak-anak kita bukan ?

Jadi, kalau si kecil panas demam atau diare, coba amati dulu frekuensi BAB dan warnanya, apakah si kecil lebih rewel atau masih aktif seperti biasa, yang terpenting disini adalah bagaimana kita mensikapi demam dan diare pada anak. Lebih dari 3 hari, segera bawa si kecil ke dokter ya🙂

beberapa informasi dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s