ih, ko koloh..

Wedew, jagoan saya mas riza, sekarang hobby banget ngemut jempol atau kata orang jawa koloh, entah bagaimana asal mulanya, mas riza jadi seneng banget ngemut jari-jemarinya. Entah itu yang kanan atau yang kiri. Awalnya saya selalu melepaskan emutan nya atau memegang tangannya biar nda koloh, tapi ternyata tetep aja dengan manisnya tu jempol diemut. Akhirnya dengan berat hati saya pun melonggarkan aturan, asal bukan tangan kiri yang di emut (dengan pertimbangan nantinya tangan kiri akan digunakan untuk cebok atau yang lain yang kotor2 :p )

Tapi ternyata bayi memang mengemut jari sebagai tahapan perkembangan psikososialnya, dan seiring bertambahnya usia, ia akan menemukan keasyikan yang lain yang sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif,motorik dan sosial- emosional.

Seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud, yaitu seorang ahli psikoanalisa terkemuka menjelaskan lebih jauh, bahwa refleks mengisap merupakan cerminan dari fase oral yang sedang terjadi pada bayi. Fase yang berlangsung sejak bayi lahir hingga usia 18 bulan ini membuat bayi mendapat kepuasan lewat sensasi di sekitar mulutnya.

Berdasar teori tersebut, baru dikatakan tidak wajar bila lewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan ngenyot jari. Dengan alasan itu, Maria Herlina Limyati, Psi.,dari Fakultas Psikologi UKRIDA, Jakarta Barat, berpendapat, orangtua tidak perlu terlalu memusingkan kebiasaan si kecil ini, “Toh, nanti jika usianya sudah lewat dari fase oral, bayi dapat berhenti ngenyot jari.”

Maria mengakui kalau ada beberapa ahli yang memiliki pendapat berseberangan. Mereka menganggap kebiasaan ngenyot jari ini harus dicegah dan dihilangkan karena akan berdampak buruk. Selain pertumbuhan gigi bayi kelak terganggu, secara psikologis anak pun akan sulit meninggalkan kebiasaan ini karena ia keburu merasa aman dan nyaman (secure feeling). Ngenyot jari pun berubah dari suatu kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan. Selanjutnya, bila kebiasaan ini terus terbawa hingga anak besar, ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep diri si anak.

Dan dari hasil penelitian yang dilakukan American Dental Assosiation, terbukti sebagian besar anak yang mengisap jempol (bahkan hingga usia 5­6 tahun) tidak mengalami kerusakan gigi atau gusi dan gigi permanen. Secara psikologis pun mereka tetap tumbuh dengan baik.

Kerusakan pada gigi hanya dapat terjadi bila kebiasaan mengisap jari/jempol dilakukan secara agresif (dengan cara mendorong-dorong lidah ke depan hingga mengenai gigi). Namun, bayi biasanya tidak akan melakukan perilaku ini kecuali oleh anak-nak yang sudah besar (balita). Jadi sekali lagi, selama kebiasaan mengisap jari/jempol merupakan bagian dari proses pertumbuhan bayi (karena masih dalam fase oral), maka tak perlu melarangnya. Menghentikan kebiasaan ngenyot jari mungkin justru akan sia-sia jika terlalu dipaksakan. Semakin dilarang, keinginan bayi untuk mengisap jari makin besar. Untuk itu, biarkanlah bayi menghentikan kebiasaannya itu secara alami dan atas dasar keinginannya sendiri.

Pesan Maria, saat si kecil dalam fase oral, pastikan jari dan benda di sekeliling si kecil (yang bisa dia pegang dan masukkan ke dalam mulut) keadaan bersih dan higienis. “Kebiasaan ini bila tidak dijaga bisa membuahkan infeksi pada si kecil, karena dia ngenyot jarinya yang kotormengandung kuman.”

 Meski begitu mengemut jari inipun ternyata memiliki banyak manfaat, antara lain :

  •  Menumbuhkan rasa nyaman dan aman
  •  Menimbulkan kelekatan antara ibu dan bayi
  •  Membantu tumbuh kembang bayi
  •  Mengasah indera perasa bayi
  •  Menjadi percaya diri merasa diterima lingkungan

Namun sebelum kebablasan hingga usia 12 bulan, coba bunda amati dan pahami lagi kapan si kecil koloh atau mengisap jempolnya

  •  Masa ketergantungan yaitu ketika bayi merasa haus/lapar, sebelum sempat mengemut  jarinya segera penuhi kebutuhannya
  • Masa agresivitas bisa dengan mengalihkan perhatian bayi dengan biskuit atau mainan yang aman dan bersih (teether)
Ada pula hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi intensitas bayi mengemut jari:
1. Alihkan perhatian pada aktivitas lain. Contoh, kalau kebiasaannyangenyot itu muncul setiap ia sedang menganggur atau bosan, cobalah ajak ia bermain.
2. Apabila ia mengemutnya saat sedang gelisah atau sedih dengan tujuan menenangkan dirinya sendiri, posisikanlah diri kita sebagai si penenang, alias pengganti jari yang diemutnya. Beri ia perhatian lebih, entah itu dengan belaian, sapaan dan kata sayang yang bisa menenangkan hatinya sehingga ia lupa untuk mengemut.
3. Bila kebiasaan itu muncul setiap kali ia lapar, perhatikan jam biologisnya. Jika tampak tanda-tanda ia lapar, ajak bayi menyusu ASI atau makan dengan menu makanan favoritnya (bila memang sudah masuk dalam tahapan makan makanan semipadat/padat).
4. Jangan mengganti kebiasaan ngenyot jari dengan empeng. Empeng hanya memberi kepuasan palsu dan dikhawatirkan efek psikologisnya terbawa terus sampai dewasa.
5. Jika si kecil sudah agak besar (sudah bisa duduk sendiri) lakukan hal di bawah ini:- Kenalkan cara minum menggunakan gelas.- Jelaskan kebiasaan bahwa ngenyot jari dapat berakibat buruk. Seperti kuman bisa masuk ke dalam tubuh bila tangannya tidak bersih, dan sebagainya.- Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
Beberapa bunda pun berinisiatif menggunakan empeng. Tetapi, bunda juga harus berhati-hati karena penggunaan empeng memiliki sisi positif dan negatifnya. Proses mengempeng memang masih diberikan untuk memenuhi kebutuhan bayi dan memberikan ketenangan. Selain itu, jika bayi menggunakan empeng cenderung lebih mudah dihentikan dibandingkan jika menggunakan jarinya. Namun, empeng dapat menyebabkan ketergantungan dan masalah pada pertumbuhan gigi.The American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan, bila bayi masih disusui ibunya, tunda pemberian empeng karena dapat mengganggu proses menyusui. Tunda hingga proses menyusui berjalan baik. Selain itu, cegah bayi tergantung pada empeng dengan memberikan empeng hanya pada saat-saat tertentu saja.
Nah, jadilah saya biarkan mas riza masih dengan kegemarannya, paling=paling saya alihkan dengan bermain atau bernyanyi🙂
dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s