Episiotomi

Episiotomi adalah pengguntingan mulut rahim sebagai jalan lahir pada saat proses persalinan. Bila persalinan dilakukan dengan tindakan episiotomi, maka sebaiknya jika habis ke buang air kecil atau besar, bekas luka dikompres dengan obat antiseptik. Hal ini untuk menghindari terjadinya infeksi. Selain kompres, bisa juga dilakukan dengan mengolesinya dengan salep antibiotik. Salep ini biasanya sekaligus juga menyembuhkan wasir ibunya yang kerap keluar saat persalinan.

Jika robekan tersebut hingga mengenai anus, maka sesudah anusnya dibenahi, pasien harus diet sampai luka di anusnya sembuh, kira-kira 5-7 hari. Ibu harus mengatur makanannya agar buang air besarnya menjadi lembek atau encer. Kalau perlu dibantu dengan obat pencahar.

Kalau robekannya banyak, maka sebaiknya di minggu pertama sesudah persalinan, ibu jangan banyak bergerak dulu. Terutama yang membuat gerakan di daerah perineumnya. Misalnya, berjalan-jalan, karena berjalan-jalan akan membuat pergeseran di daerah perineum. Jadi, lakukan kegiatan yang tidak banyak menggerakkan daerah perineum tersebut. Misalnya, dengan duduk atau berbaring.

Pengguntingan mulut rahim sebagai jalan untuk kelahiran janin pada saat persalinan kadangkala perlu dilakaukan. Melahirkan tanpa pengguntingan bisa mengakibatkan robekan ke mana-mana. Saat bayi dilahirkan, terutama kala kepala atau pantat bayi mulai “nongol”, maka bisa jadi membuat robek leher rahim, vagina, labia, hingga perineum sang ibu. Terlebih lagi pada kelahiran dengan bayi besar atau proses kelahirannya terlalu cepat. Perobekan itu bisa melebar ke mana-mana dengan bentuk yang tak beraturan, sehingga proses penjahitan kembali akan mengalami kesulitan. Nah, untuk menghindari robekan yang tak teratur inilah, maka dalam proses persalinan, dokter kerap melakukan episiotomi. Episiotomi merupakan tindakan bedah ringan berupa sayatan/irisan di daerah perineum antara lubang kemaluan (vagina) dan lubang pelepasan (anus).

MEMPERLEBAR JALAN LAHIR
Tujuan utama episiotomi, lanjut Lastiko, untuk memperlebar jalan lahir, sehingga memudahkan kelahiran kepala bayi. Bahkan, bila yang keluar pantat duluan pun, tetap dilakukan episiotomi.

Tujuan lainnya untuk mencegah vagina tidak robek. “Sebab kalau robek secara spontan, bukan dengan digunting, maka robekannya akan compang-camping sehingga menjahitnya susah dan hasil jahitannya juga tak akan rapi. Jahit sana, jahit sini. Hasilnya juga tak indah, kan? Sedangkan kalau digunting, akan rata robeknya, sehingga dijahitnya juga rata, bagus, dan rapi,” papar dokter dari RSIA Hermina Jatinegara, Jakarta ini.

Selain itu, dengan dilakukannya episiotomi, maka berarti juga mempersingkat waktu ibu dalam mendorong janinnya keluar. “Ddulu, kan, kalau melahirkan anak pertama, dokter dan bidan akan menunggu hingga jalan lahirnya elastis sendiri. Walau 3 jam pun akan tetap ditunggu. Nah, sekarang hal ini tidak lagi dilakukan. Dari sudut perinatologi, hal ini akan merugikan sang anak. Kalau terlalu lama bayi di jalan lahir, maka oksigen di kepala bayi akan makin berkurang, sehingga akan mengganggu kecerdasannya kelak.”

Kapan episiotomi diperlukan?
Setiap persalinan sangat tergantung pada masing-masing individu. Namun berikut ini ada beberapa alasan umum mengapa Anda membutuhkan tindakan episiotomi.

  1. Untuk mempercepat persalinan bila kepala bayi terlalu besar (biasanya berlawanan dengan perineum) dan bayi memperlihatkan tanda-tanda dalam bahaya.
  2. Sebelum dilakukan persalinan bantuan dengan forsep atau vakum.
  3. Untuk menghindari risiko kerusakan kepala bayi pada persalinan sungsang atau kelahiran prematur.
  4. Untuk menghindari upaya yang terlalu keras jika calon ibu mengidap sakit jantung atau tekanan darah tinggi.
  5. Untuk membantu persalinan jika ada hambatan yang serius pada tahap kedua persalinan, yang bisa jadi mengharuskan akibat perineum yang keras karena pernah mengalami operasi, baik untuk memperbaiki mulut rahim atau sejenis operasi kandung kemih.

Bisakah menghindari episiotomi?
Banyak bidan menyatakan perineum perempuan Asia lebih lentur, tapi belum diketahui apakah hal itu akibat faktor genetik atau perbedaan gaya hidup. Anda dapat menghindari tindakan episiotomi, sekaligus mengurangi rasa sakit persalinan, dengan beberapa cara berikut:

  1. Melakukan latihan mulut rahim, untuk membantu perineum menjadi lebih lentur.
  2. Melakukan pemijatan pada bagian perineum dengan menggunakan minyak sayur atau minyak almond.
  3. Kemungkinan paling efektif menghindari tindakan episiotomi adalah dengan melakukan proses persalinan yang benar, misal perlahan mengeluarkan kepala bayi sesuai dengan tingkatan pembukaan vagina. Tunggulah refleks menekan secara alamiah yang akan Anda alami. Hindarilah tekanan yang terlalu dipaksakan.
  4. Tetap rileks dan dengarkan baik-baik petunjuk yang diberikan dokter. Dokter bisa memperlambat jalannya persalinan, bila memang Anda merasa tak tahan. Dokter juga yang bisa menilai kapan waktu yang tepat untuk meminta Anda melakukan tekanan. Jika Anda mendorong terlalu awal, sebelum perineum terbuka maksimal, Anda akan lebih merasakan sakitnya.

Jika cara di atas gagal Anda lakukan, janganlah menutup pikiran Anda untuk melakukan episiotomi. Jika memang Anda ditawari untuk melakukannya, pastikanlah Anda melakukannya dengan kerelaan. Sikap ini akan sangat membantu Anda nantinya, karena bagaimanapun, prosedur ini harus dilakukan demi keselamatan dan kelancaran persalinan Anda dan bayi Anda sendiri.

Siapa yang kompeten melakukan episiotomi?
Seorang dokter atau bidan dapat melakukan episiotomi. Anda akan diminta mengambil posisi lithotomy (berbaring pada punggung), dengan kaki diangkat pada pijakan kaki. Episiotomi juga bisa dilakukan dengan cara berbaring pada satu sisi, satu kaki diangkat. Sebelumnya area vagina dibersihkan dengan obat antiseptik untuk mencegah infeksi pada luka.

Pemberian anestesi
Jika sebelumnya Anda telah diberi suntikan epidural (anestesi yang membuat mati rasa di bagian bawah tubuh), tindakan anestesi untuk episiotomi bisa dilakukan di bagian daerah yang telah mati rasa tersebut. Meski demikian, jika Anda kerap melahirkan tanpa dibantu penghilang rasa sakit, penggunaan gas, udara, dan pethidine (analgesik yang membuat Anda santai), Anda akan diberikan anestesi lokal untuk menghambat saraf sensitif di area perineal — biasanya diberikan sedikit takaran lignocaine, yang disuntikkan di kulit.

Untuk melindungi kepala bayi, yang mungkin lebih besar dibandingkan area perineum pada saat ini, dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina saat ia menyuntikkan anestesi. Membutuhkan sekitar 4-5 menit untuk menunggu efek anestesi bekerja.

KELAHIRAN PERTAMA

Umumnya, jelas Lastiko, episiotomi dilakukan pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. “Sebab, pada kelahiran yang pertama, jalan lahir belum pernah dilewati bayi, sehingga biasanya jalan lahir masih agak kecil dan sukar meregang. Jadi, kalau tidak dibantu dengan episiotomi, biasanya akan robek.”

Walaupun demikian, bukan berarti hal ini adalah harga mati, sebab kadang tindakan episiotomi tetap diperlukan pada kelahiran yang kedua dan ketiga sekalipun. “Bisa saja, walaupun bayi yang kedua 3 kg, tetap saja kegedean bagi jalan lahir si ibu, sehingga tetap diperlukan tindakan episiotomi. Terlebih lagi kalau perineumnya sangat kaku.”

Selain itu, episiotomi juga dilakukan bila persalinan hendak dilakukan dengan menggunakan alat bantu, entah forcep atau tang atau cunam. Juga pada persalinan prematur atau letak sungsang. “Hal ini dimaksudkan untuk memperlebar jalan lahir agar tidak cedera karena tindakan alatnya.”

Waktu yang tepat dilakukan episiotomi adalah saat puncak his dan mengejan, saat perineum sudah tipis, saat lingkaran kepala pada perineum sekitar 5 cm. “Jadi, episiotomi dilakukan saat kepala sudah di dasar panggul.”

Sebelum tindakan, biasanya dokter akan melakukan infiltrasi anestesi (pembiusan lokal), supaya ibu tak merasakan sakit. Teknik pengguntingannya ada 3 macam. Yang pertama, teknik median; pengguntingan dilakukan secara vertikal antara vagina hingga hampir anus. Teknik ini ada untung ruginya. Ruginya, kalau kepala yang lahir terlalu besar, maka robeknya akan meluas. Bahkan bisa sampai merobekkan anus sehingga otot yang mengatur pelepasan pun ikut robek. Untungnya, karena pengguntingannya terletak di tengah, di mana daerah ini paling sedikit pembuluh darahnya, maka risiko perdarahan sangat kecil. Selain itu, penjahitannya pun jadi mudah dan terlihat rapi.

Kedua, episiotomi lateral; pengguntingan ke arah samping. Kerugian teknik ini, pembuluh darah ke arah samping sangat banyak, sehingga darah yang keluar akan sangat banyak. “Bekas parut jahitannya pun akan kelihatan. Terlebih lagi, karena menjahit ke samping, maka hasil jahitannya juga tak bisa rapi.”

Ketiga, mediolateral; teknik pengguntingan ke arah bawah dan samping. Jadi, baru separuh arah vertikal yang dipotong, langsung diarahkan ke samping. Dengan kata lain, median separuh, lateral separuh. Ke samping bisa ke arah kiri atau kanan. “Kalau pada persalinan pertama dilakukan ke arah kanan, maka pada persalinan berikutnya akan dilakukan ke arah sebelahnya. Mengapa demikian? Karena menggunting jaringan parut yang dulu tentu masih sangat keras.” Keuntungan teknik ini, selain jahitannya lebih rapi, perdarahannya agak berkurang. “Yang pasti jalan lahir jauh lebih lebar.”

Panjang-pendeknya guntingan, menurut Lastiko, tidak ada patokannya. “Tergantung feeling dokternya. Disesuaikan dengan keadaan kepala atau bokong bayi yang hendak keluar. Kalau butuhnya sedikit saja, ya, kita potong sedikit, kalau butuh lebih lebar, ya, tambah lagi.” Namun yang pasti, sayatan itu tidak pernah sampai ke anus. Kadang-kadang dalam kasus tertentu, misalnya, bayi terlalu besar, bisa sampai merobekkan anus. Toh, ibu tak perlu khawatir karena dokter pasti akan membenahinya lagi.

PENJAHITAN KEMBALI
Nah, Bu, saat si kecil sudah lahir, dokter atau bidan akan menjahit kembali sayatan/robekan tadi. Teknik menjahitnya, terang Lastiko, berbeda antara satu dokter dengan lainnya. “Ada yang suka menjahit dengan cara menjelujur, ada pula yang menjahit satu-satu.” Itulah mengapa, sering, kan, orang bertanya pada pasien yang habis melahirkan, “Berapa jahitannya?” Ternyata yang dimaksud adalah penjahitan satu-satu; satu diikat, satu lagi, satu lagi. “Inilah yang bisa dihitung jumlah jahitannya.”

Keuntungan penjahitan satu-satu, lanjut Lastiko, “kalau lepas satu jahitan, yang lain tidak ikut lepas. Lain halnya jika sistemnya memakai jelujur, maka kalau satu lepas, lainnya pun ikut lepas.” Yang jelas, Bu, apapun teknik penjahitannya tidak akan mempengaruhi kenyamanan Ibu pasca melahirkan. “Kalau terjadi gatal di bekas parutnya, biasanya karena ada komplikasi. Mungkin karena ada infeksi. Karena itu, kebersihan pribadi sangat berperan, juga resistensinya terhadap kuman.” Sebab, pada ibu-ibu yang daya tahan tubuhnya kurang, entah karena anemia atau gizinya kurang, umumnya lebih mudah terinfeksi. Begitu juga bagi ibu-ibu yang kerap minum obat antibiotik, maka membuat sang kuman pun lebih resisten dibandingkan yang jarang minum antibiotik.

Kendati demikian, kaum ibu tak perlu khawatir, bekas jahitan ini akan mengganggu hubungan intim dengan suami, kok. “Kalau tidak dijahit malah jalan lahir akan terbuka lebar. Justru dengan dijahit, maka vagina dibuat seperti semula lagi.”

Memang, aku Lastiko, kendati jarang kadang terjadi kealpaan, misalnya, menjahit terlalu banyak, sehingga lubang vagina jadi terlalu sempit. “Sehingga menimbulkan trauma atau rasa sakit saat berhubungan. Jika ada keluhan seperti ini, sesudah 40 hari atau 3 bulan persalinan akan diperbaiki lagi untuk diperlebar.” Perbaikan memang baru bisa dilakukan setelah masa nifas berakhir dengan anggapan kesehatan pasien sudah kembali pulih. “Sebab, kalau masih masa nifas, selain kesehatan secara umum belum pulih, pembuluh darah juga masih melebar, sehingga tidak baik dilakukan pembukaan ulang.”

PENYEMBUHAN

Rasa tidak nyaman akibat episiotomi toh tak berlangsung lama. Umumnya luka episiotomi sudah membaik sekitar 7 hari kemudian. “Kecuali kalau terjadi infeksi, sehingga bekas luka episiotomi bisa membuka lagi.” Itulah mengapa, pada persalinan yang disertai tindakan episiotomi selalu diberikan antibiotik sesudahnya. “Nah, infeksi ini terjadi karena pasien tak diberi antibiotik atau antibiotiknya tidak cocok. Misalnya, kumannya sudah kebal terhadap antibiotik itu, sehingga timbul nanah dan akan membuat jahitan membuka sendiri.”

Yang penting, ibu harus segera ke dokter bila terjadi infeksi. Biasanya infeksi ditandai dengan gejala awal demam atau vagina terasa sakit. “Jangan tunda sampai keburu bernanah dan membuat luka terbuka.” Karena bila sudah terlanjur infeksi, maka proses penyembuhannya akan memakan waktu lama. “Harus menunggu infeksinya hilang. Lukanya harus dicuci dengan obat antiseptik, serta diberi obat antibiotik lain.” Penjahitan ulang baru bisa dilakukan setelah infeksi sembuh total. Itupun kalau perdarahannya sudah berhenti. “Kalau masih ada, maka pada luka tersebut harus dilakukan penjahitan situasi atau sementara agar pembuluh darahnya tidak terbuka.”

Selain infeksi, kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah hematoma (penggumpalan darah dalam satu tempat). “Kalau terjadi hematoma, maka vagina bisa membengkak besar sekali.” Hematoma bisa terjadi karena ada pembuluh darah yang pecah dan tak terdeteksi sehingga tidak dijahit saat penjahitan episiotomi berlangsung. “Umumnya robekan pembuluh darah ini letaknya di dalam, sehingga tidak gampang ketahuan. Darah pelan-pelan keluar, yang makin lama makin banyak sehingga timbul penggumpalan dan vagina pun akhirnya membengkak.”

Robekan pembuluh darah sebenarnya bukan melulu akibat episiotomi. Bisa juga terjadi karena tekanan kepala bayi di jalan lahir. Pembengkakan bisa pula terjadi di bibir vagina, baik yang kanan ataupun kiri. “Jadi, kalau bibir kemaluannya tampak biru, tegang, sakit, berarti ada pembuluh darah yang pecah.”

Penggumpalan akibat benturan atau tekanan kepala bayi inilah yang kerap menimbulkan hematoma. “Hematoma akibat episiotomi justru jarang sekali terjadi. Karena saat menjahit, kalau ada perdarahan atau perembesan, maka perdarahannya akan dihentikan dulu. Jadi, tak akan menggumpal.”

Apa yang terjadi setelah persalinan dengan episiotomi selesai?
Banyak perempuan merasa terlalu khawatir terhadap luka perineumnya sehingga takut melakukan aktivitas seperti berjalan, buang air kecil, mandi, dll., pada hari-hari pertama usai melahirkan. Sebenarnya hal ini berlebihan karena luka episiotomi bisa pulih lebih cepat, tak perlu menunggu hingga 4-6 minggu.

Kuncinya adalah memulihkan kesehatan secara umum dan menjaga kebersihan luka episiotomi. Lakukan perawatan rutin seperti yang disarankan dokter, misal, membasuh luka dengan cairan antiseptik (bisa juga menggunakan air rebusan daun sirih), mengganti pembalut dengan teratur, menjaga daerah perineum agar tak lembab — karena lembab akan mengundang jamur — dan mandi secara teratur. Dulu, ada pemikiran mencampurkan garam pada air mandi akan mempercepat proses penyembuhan, tapi faktanya hal ini malah akan membuat luka menjadi teriritasi. Anda juga sebaiknya menghindari busa sabun mandi — ada baiknya untuk hanya menggunakan air saat mandi untuk beberapa minggu. Keringkan luka dengan mengusapnya secara lembut, menggunakan handuk bersih.

Saat ke Kamar Kecil
Dalam beberapa hari pertama mungkin saja akan terasa sakit saat buang air kecil. Beberapa ibu menggunakan air hangat untuk membasuh bagian luka agar tak terasa sakit. Ini boleh-boleh saja, tapi mungkin akan terasa sedikit menyengat.

Menghilangkan Rasa Sakit
Episiotomi dengan sedikit jahitan biasanya lebih cepat pulih dan tak menimbulkan rasa sakit ketimbang episiotomi dengan jahitan banyak. Jika ada rasa seperti terbakar pada bekas episiotomi, jangan pernah berpikir untuk menghilangkannya dengan menggunakan kantung es yang ditaruh langsung. Jika Anda melakukannya, mungkin malah akan merasa semakin terbakar oleh dingin es. Segala sesuatu yang dingin juga akan memutus aliran darah di area tersebut, dan ini malah memperlambat penyembuhan.

Banyak dokter merekomendasi ibu mengkonsumsi obat arnica yang tersedia di apotek secara bebas, untuk membantu proses penyembuhan. Jika tetap merasa sakit, minta rekomendasi untuk mengkonsumsi obat parasetamol. Jika menginginkan obat lebih kuat, minta pada dokter yang bisa dikonsumsi. Jangan gegabah mengingat Anda juga tengah menyusui.

Berhubungan badan
Waktu yang tepat untuk mengetahui kapan hubungan intim dilakukan kembali setelah bersalin, sangat bergantung pada keputusan masing-masing individu, persisnya antara Anda dan suami. Yang pasti, Anda harus menunggu sampai perdarahan pasca-persaliann selesai (masa nifas), dan luka episiotomi sembuh sebagian atau sepenuhnya. Ini perlu dipertimbangkan, sebab luka tersebut bisa saja masih rapuh dan menyebabkan kesakitan setelah berhubungan intim.

Normalnya, hubungan intim sesudah beberapa minggu atau bulan tindakan episiotomi, tak menimbulkan rasa sakit. Tetapi jangan malu mengatakan pada suami jika memang masih terasa nyeri. Cobalah lagi lain waktu bila Anda lebih siap. Jika irisan telah dijahit dengan baik, tak ada alasan jahitan tersebut copot atau lepas saat Anda berhubungan intim, meski masih banyak saja ibu merasakan ketakutan ini.

Menggunakan sedikit minyak pelumas di area vagina Anda juga merupakan ide baik, mengingat usai melahirkan vagina Anda belum cukup mempunyai minyak pelumas untuk lubrikasi. Hindari penggunaan minyak pelumas yang unsurnya tak termasuk air, seperti jelly petroleum, karena tak memungkinkan udara masuk ke dalamnya dan malah akan menghambat proses penyembuhan.

Jika ingin mulai melakukan hubungan seks, Anda bisa mengambil sejumlah posisi yang ‘aman’. Posisi sama-sama menyamping cukup baik untuk memperkecil tekanan pada bagian perineum. Bangunlah aktivitas seksual Anda, tapi jangan sampai membatasi atau tak mengindahkan rasa sakit yang dirasakan.

Komplikasi
Masalah yang umum terjadi setelah melakukan episiotomi adalah infeksi, akibat sulitnya menjaga daerah tersebut tetap kering dan bersih. Masih tergolong normal bila luka kembali berdarah, setelah 6 minggu pasca-melahirkan. Rasa gatal yang berlebih juga bisa menandakan adanya infeksi, masuknya jamur, atau hal lainnya pada bekas luka, yang harus dicek lebih lanjut ke dokter. Beberapa ibu mungkin saja merasa sakit karena jahitan yang dibuat terlalu kencang, tetapi dokter bisa dengan segera membetulkan dengan mengendurkan atau melepas beberapa jahitan yang membuat tak nyaman tersebut

Langkah Menangani Infeksi Episiotomi

Kasusnya infeksi episiotomi ini memang relatif kecil, dan risikonya 1-4%. Tingkat keparahannya bervariasi tergantung luas wilayah dan kedalaman jaringan yang terinfeksi. Mulai dari vagina, vulva (bibir luar dan dalam), bahkan dapat menjalar hingga ke rahim. Umumnya, terjadi 1-2 hari setelah persalinan.

Penyebab: Bakteri Escherichia coli dari anus.

Gejala: Bekas luka jahitan terasa sakit, panas, gatal sehingga mengganggu proses buang air kecil, terjadi pembengkakan di sekitar jahitan episiotomi, dan bila diraba terasa panas.

Pengobatan: Biasanya jahitan akan dilepas agar cairan nanah dapat ke luar sehingga luka cepat mengering. Pembalut vagina diganti secara berkala, kebersihan vagina ditingkatkan, dan diberi obat antibiotika.

Pencegahan: Menjaga kebersihan daerah sekitar vagina dan luka bekas episiotomi, terutama setelah buang air kecil dan buang air besar.

dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s