2

Mitos dan Fakta Ibu Menyusui

Entah beberapa kali saya diingatkan untuk tidak mengkonsumsi makanan pedas dan minum dingin karena saya ibu menyusui, padahal saya pecandu makanan pedas, jadi mana mungkin bisa saya hindari ? dan cuaca belakangan yang sangat panas, tentu saja membuat saya memilih minuman dingin. Bukanna tidak mau mendengarkan, bisa dibilang mungkin saya juga bandel kali ya. Hanya saja saya tidak percaya kalau mengkonsumsi makanan pedas dan minuman dingin bisa mempengaruhi kualitas ASI.

Sama halnya waktu saya masih hamil, banyak orang bilang minum es bikin baby na besar. Hmmm, padahal saya hampir setiap hari mengkonsumsi minuman dingin. Tinggal di kota yang panas, dalam keadaan hamil membuat saya terus berkeringat karena gerah. Otomatis saya jadi sering meminum minuman dingin. Memang sih mas riza waktu lahir terhitung besar (3,5 kg) tapi menurut saya karena banyaknya telur rebus yang saya konsumsi.

Ceritanya waktu itu 2 minggu sebelum melahirkan, waktu USG, BB mas riza diperkirakan 2,6 kg. Lalu kakak saya menyarankan mengkonsumsi telur rebus dan mengurangi karbohidrat. Jadilah saya hampir setiap hari mengkonsumsi telor rebus dan mengurangi porsi makan nasi. Nah, 2 hari sebelum melahirkan, dokter yang meng USG bilang kalo ms riza tergolong besar, diperkirakan beratnya 3,2 kg. Saat itulah baru kakak saya ingat kalo mengkonsumsi telur rebus bisa menambah BB janin dengan cepat. Waduh, pikir saya, kalo mas riza lahir sesuai perkiraan bisa-bisa BBnya mencapai 4 kg donk. Syukurlah 2 hari kemudian mas riza mbrojol dengan sehat dan selamat dengan berat 3,5kg. Jadi saya pikir, selama 8 bulan lebih saya mengkonsumsi minuman dingin, BB mas riza terhitung normal, tetapi saat saya mengkonsumsi telur rebus hanya dalam 2 minggu, BB na bertambah dengan cepat😀

Nah, moms juga pasti pernah dong dikasih pantangan ini itu oleh orangtua atau eyang2na.Padahal sering kali hal itu hanya mitos, lho. Apa aja sih mitos dan fakta seputar menyusui?

Mitos: Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu.
Fakta: Tidak perlu dibuang. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Sebelum menyusui, ibu boleh mengoleskan ASI kepada puting susu dan sekitarnya untuk mematikan kuman.

Ugh, sayang banget kan kalo dibuang, padahal biasanya ASI yang keluar, volumena masih sedikit.

Mitos: ASI basi.
Fakta: Tidak ada istilah ASI basi selama ASI ada di payudara ibu. ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh. ASI dianjurkan untuk tidak diberikan lagi bila dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari 8 jam. Namun bila disimpan di kulkas bisa bertahan 2 minggu, bila di suhu freezer, bisa bertahan 2 bulan.

Emh, kalo ASI na bisa basi, gimana dengan payudara kita ya moms😀

Mitos: Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu dapat menyebabkan bayi diare.
Fakta: Tak pernah terjadi bayi diare hanya karena makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski begitu, sebaiknya ibu jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung.

Menurut hasil penelitian, ibu-ibu yang rutin mengkonsumsi makanan pedas dan makanan yg beraroma tajam, tidak menunjukkan reaksi buruk pada bayi seperti kembung, rewel atau masalah lainnya. Makanan yang beraroma tajam, seperti bawang putih, yang ibu konsumsi dapat masuk ke dalam ASI. Tapi kondisi ini sama sekali tidak menyebabkan masalah pada bayi. Bahkan, satu studi menunjukkan bahwa bayi relatif menyusu lebih baik pada ibunya setelah sang ibu makan bawang putih.

Mitos: Ibu menyusui tak boleh minum es karena menyebabkan bayi pilek.
Fakta: Hal itu tak berhubungan sama sekali. Suhu ASI dalam payudara tetap hangat 37 derajat celsius. Apa pun yang dikonsumsi ibu akan diserap darah dan akan diproduksi menjadi ASI.

Yang benar, karena es atau minuman dingin bisa memperlambat kerja pencernaan, disarankan meminum minuman hangat setelah makan

Mitos: Semasa menyusui ibu harus makan dua porsi lebih banyak.
Fakta: Sebetulnya tidak demikian. Yang penting adalah konsumsi menu seimbang. Bila ibu merasa lapar silakan makan, tetapi berhenti bila sudah kenyang. Perhatikan keseimbangan dan kecukupan gizinya. Sebaiknya ibu tidak diet karena memengaruhi komposisi ASI dan produksinya juga akan berkurang.

Makanlah sedikit-sedikit tetapi sering. banyak makan di satu waktu juga kurang baik kan. Sebagai tambahan, lemak dan kalori yang terdapat dalam ASI tidak akan dipengaruhi oleh makanan yg ibu konsumsi. Namun, beberapa jenis lemak dalam ASI dapat berubah karena makanan.

Mitos: Payudara besar berarti ASI berlimpah.
Fakta: Tidak benar. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang. Banyak sedikitnya produksi ASI bergantung pada gudang ASI yang di situ terdapat kelenjar-kelenjar susu yang menghasilkan ASI. Setiap ibu mempunyai kelenjar yang banyaknya kurang lebih sama.

Semakin sering menyusui, volume ASI pun semakin banyak. Tentunya moms juga mengkonsumsi makanan dengan jumlah yang tepat dan teratur. Disarankan juga mengkonsumsi air putih lebih banyak dari biasanya🙂

Mitos: Payudara jadi kendur bila menyusui.
Fakta: Justru proses menyusui menyebabkan payudara jadi kencang. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dari otot-otot dan kelenjar payudara.

Hm, melihat pengalaman teman-teman dan kakak-kakak saya yang dahulu menyusui, payudara mereka masih bagus ko moms😀

Mitos: Bayi dengan ASI eksklusif akan susah diberi makanan pendamping.
Fakta: Justru bayi yang mendapat ASI eksklusif nantinya lebih mudah menerima variasi rasa makanan pendamping. Pasalnya, bayi sudah terbiasa memperoleh rasa ASI yang variatif.

Mungkin karena banyaknya jenis makanan yang kita konsumsi, baby juga ikut merasakan :D Bagaimanapun, ASI dibuat dari apapun yg dapat masuk melalui darah ibu, bukan apa yang ada di lambung ibu ataupun sistem pencernaannya.

Mitos: Setelah ibu bekerja, produksi ASI akan berkurang.
Fakta: Tidak selalu. Caranya, sebelum dan setelah bekerja, ibu tetap memberikan ASI langsung kepada bayinya, sementara selama ibu bekerja, ASI tetap dikeluarkan dengan cara diperah setiap 3 jam sekali. Kalau hanya diperah saja tanpa disusukan langsung, produksinya pun akan berkurang karena isapan bayi dapat merangsang kerja otak untuk menghasilkan hormon prolaktin.

Disarankan bayi meminum ASI langsung dari puting ibu, karena perbedaan puting ibu dan puting dot juga bisa membingungkan baby🙂 lagipula dengan meminum langsung, diantara moms and baby terbentuk ikatan yang kuat🙂

Terus  ada gak sih makanan yang harus dihindari selama masa menyusui ?

Jawabannya tentu saja TIDAK ADA makanan yang perlu dihindari selama ibu menyusui. Umumnya ibu menyusui boleh makan apa saja dan kapan saja serta berapa banyakpun jumlahnya. Kecuali jika ada tanda-tanda (reaksi) jelas pada bayi terhadap suatu makanan. Tidak ada “Daftar makanan yang tidak boleh dimakan ibu menyusui”, karena kebanyakan ibu menyusui dapat mengkonsumsi apapun yang mereka inginkan. Memang ada beberapa bayi yang sensitif terhadap jenis makanan tertentu. Tapi sekali lagi ini bersifat unik. Misalkan jika ibu memiliki riwayat alergi, maka ibu mungkin akan menghindari makanan tertentu tsb. Namun bukan berarti anak juga akan alergi terhadapa makanan tersebut.

Di dunia ini, alergi terhadap kacang berkisar 1%. Satu dari 4 individu yg alergi memiliki gejala alergi yang cukup parah, seperti masalah dg pernafasan dan pencernaan. Menghindari kacang dan produk kacang selama trimester ketiga kehamilan dan masa menyusui umumnya direkomendasikan bagi ibu yg alergi thd kacang. Umumnya karena bayi memiliki resiko alergi thd makanan tersebut juga.

Hindari betul mengkonsumsi kacang dan produk kacang selama masa menyusui, JIKA :
a.. Keluarga dekat (ayah, ibu, kakak kandung) memiliki riwayat alergi makanan, asma atau eksim
b.. Kerabat memiliki riwayat alergi kacang
c.. Bayi memiliki riwayat asma, eksim atau alergi makanan
d.. Bayi memiliki riwayat alergi terhadap telur dan eksim yg cukup parah
Jika dalam keluarga (termasuk sang bayi) tidak ada riwayat alergi makanan, asma atau eksim, ibu dapat mengkonsumsi kacang. Ahli alergi umumnya merekomendasikan agar anak tidak mengkonsumsi kacang atau produk kacang hingga berusia 36 bulan. Karena alergi kacang relatif berbahaya dan kacang itu sendiri tidak esensial bagi makanan, maka tidak ada salahnya untuk menghindari mengkonsumsinya untuk amannya.

Well, semoga beberapa informasi yang saya dapat dari hasil googling ini bermanfaat ya moms. Jadi, jangan takut atau ragu untuk menyusui ya😉

0

mau pinter, nak ?

Beberapa hari yang lalu mas riza pupnya sedikit mengkhawatirkan, berwarna hijau dan sedikit cair. Maklumlah ibu baru, disini juga cuma sama suami n anak, jadilah panik n sms sana-sini. Mulai dari sahabat, kakak bahkan ke bidan yang membantu kelahiran mas riza. bukannya saya ga mau ke dokter, cuma saya sendiri sadar, apapun yang berhubungan dengan mas riza gampang sekali bikin saya panik dan kebakaran jenggot. Memang sih, anakna sendiri ngga rewel atau demam. Cuma intensitas pup dan warnanya yang membuat saya bertanya-tanya.

Saya pun mengingat-ingat lagi makanan yang saya konsumsi sebelumnya, karena baru beberapa minggu kami pindah ke ibukota -halah- jadi mungkin mas riza masih dalam proses adaptasi atau penyesuaian lingkungan, udara atau bahan makanan. Sampai akhirnya saya pun berpikir bahwa makanan yang saya konsumsi tidaklah higienis. Jujur saya, mungkin karena terlalu banyak menonton informasi televisi, saya jadi takut makanan ini mengandungboraks, makanan itu mengandung anu..Hayah, justru karena takut ini itu saya malah jadi bingung mau makan apa. Eh, loh ko bahas makanan. Ya sudahlah, dan sms yang melegakan hati pun datang, kalo kata budhe na mas riza “gpp, masih normal, mau pinter itu makanya ngentengin badan” dalam hati pun “aamiin..” , dari sahabat ” gpp bu, tar ke dokternya kalo pupnya sering aja”, dari bidan “selama belum cair masih aman, normal itu mba, mungkin udara lagi dingin aja”🙂 alhamdulillah, “kepanikan” pun sedikit terobati. Dan eyangnya pun mengiyakan, “kalo mau tambah pinter kalo ngga demam ya mencret”.

Tapi apa iya moms, kalo anak mau pinter tuh kalau ngga demam ya diare ? duh, kasian donk kalau gitu😦 dari hasil menjelajah internet -halah- browsing maksudte, mitos itu memang bisa dipercaya atau tidak. Berhubung saya sendiri new mom, punya anak baru 1 jadi saya tidak bisa mengiyakan atau menolak mitos itu🙂 bagi sebagian moms yang percaya, setelah anak mereka demam atau diare, ada 1 tambahan kepintaran yang dimilki, entah itu merangkak, berjalan, tumbuh gigi, atau sekedar pintar tengkurap. Berhubung mas Riza baru 4,5 bulan ( 5 bulan minggu depan :D) dan tanda-tandanya menunjukkan dia mau merangkak jadi yah saya percaya aja. Karena katana kalo kita panik atau stress, bisa ngaruh ke baby🙂 jangan sampai donk. Jadi saya ber-sugesti kalo mas riza mau nambah pinter😀

Bukan berarti juga kita mengabaikan kesehatannya lho moms, kalau demam atau diare nya berkelanjutan wajib ke dokter tuh🙂 jangan sampai kecolongan. Kasian kan kalo anak dehidrasi tanpa kita ketahui. Kadang orang menghubungkan antara diare dengan anak akan menjadi “pinter” merangkak, berjalan atau tumbuh gigi. Apa iya? meskipun dari sudut pandang medis hal ini sulit diterima. Tetapi jika akan tumbuh gigi memang kadang disertai dengan demam, hal ini terjadi karena adanya radang saat gigi akan tumbuh. 

Buat saya, karena mas riza saya beri ASI ekslusif, biasanya kalau dia demam atau diare, memperbanyak pemberian ASI🙂 efektif juga lho.  Karena zat kekebalan yang dibawa ASI tentu bukan hanya bakteri baik, tapi ada aneka sel darah putih dengan macam-macam fungsi dalam jumlah berlimpah mulai dari anti-in26feksi, anti radang, pelapis usus, anti alergi dan sebagainya.

Nah, setelah berusia 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan pendamping alami. Apakah yang terkandung dalam makanan pendamping alami yang tidak akan terdapat dalam makanan olahan pabirk? Enzim, vitamin dan mineral alami yang juga punya daya perlidungan luar biasa bagi bayi.

 Secara umum ketika usia 6 bulan, bayi akan mulai sakit ringan yang ditandai dengan gejala seperti batuk, pilek, demam dan diare atau muntah. Hal ini disebabkan oleh zat kekebalan dari ibu yang telah mulai menurun kadarnya, ASI yang mulai tergantikan dengan makanan pendamping ASI serta mobilitas / pergerakan bayi yang mulai meningkat. Batuk, pilek, demam dan diare dialami semua bayi karena ini adalah bagian dari tumbuh kembang bayi. Coba deh moms perhatiin, adakah balita di atas usia 6 bulan yang sama sekali tidak pernah batuk pilek demam dan diare?

Namun, apakah yang umumnya terjadi pada bayi di saat ia sakit? Orangtua akan membawanya ke fasilitas kesehatan (dokter atau bidan) dan sepulang dari dokter / bidan orangtua akan dibekali dengan satu atau lebih obat. Puyer berisikan beberapa obat yang disatukan disertai sirup anti demam umumnya diberikan. Antibiotik tak lupa disertakan, dapat disertakan dalam puyer atau pun dalam bentuk sirup yang terpisah. Lihatlah 2 contoh resep di bawah ini:

Resep yg sisi kiri diberikan pada bayi 1 bulan, ASI eksklusif, dgn keluhan “flu”. Resep sisi kanan diberikan pada bayi 3 bulan, ASI eksklusif, dengan diare akut, tanpa perdarahan. Rasionalkah? Kedua resep puyer ini mengandung Luminal, obat anti kejang, untuk apa bayi batuk pilek atau diare dapat obat anti kejang? Efek sampingnya amat berbahaya: perlambatan irama jantung, tekanan darah rendah, henti napas dan depresi sistem saraf pusat. Rewel bukan indikasi pemberian obat anti kejang, rewel lumrah terjadi saat sakit, tenangkan dengan menyusui. Kedua resep ini juga mengandung antibiotik (eritrhomycin dan nifural) yang sama sekali tidak diperlukan. Obat-obat lain dalam resep ini juga tidak ada pada pedoman batuk pilek dan diare tanpa perdarahan.

Gejala batuk pilek demam dan diare sebagian besar disebabkan oleh virus. Virus ini pada umumnya adalah self limiting disease atau sembuh sendiri. Sementara antibiotik HANYA dapat mematikan atau melemahkan bakteri, bukan virus. Antibiotik tidak dapat mengenali mana bakteri baik dan mana yang jahat, sehingga bakteri baik akan selalu ikut dihantam oleh antibiotic yang dikonsumsi anak kita. Sia-sia lah usaha mengumpulkan bakteri baik dari proses IMD dan ASI eksklusif. Semakin sering anak minum antibiotik, semakin sering ia sakit, karena berkurangnya bakteri baik yang membantu pertahanan tubuh. Penggunaan antibiotik secara tidak rasional juga menyebabkan timbulnya resistensi atau berubahnya sifat bakteri menjadi tahan terhadap antibiotik sehingga suatu saat kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan. Antibiotik menyelamatkan hidup, maka kita harus menyelamatkan antibiotik dengan menggunakannya secara rasional. Bila tidak ada indikasi untuk pemberian antibiotik, STOP segera, tidak ada isitilah “terlanjur minum antibiotik”, sebaliknya bila memang ada indikas taati aturan minumnya dengan baik.

Moms, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam tubuh (infeksi virus). Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk. Begitu juga dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang diproduksi hidung. Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti bahwa ada infeksi bakteri. Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan. Bila hidung tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.

Bagaimana dengan demam ? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman. Benar bahwa demam dapat menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam hanya bila suhu di atas 38,5&derC (pada anak usia 1 tahun atau lebih). Diare akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak tidaklah dianjurkan oleh WHO. Tata laksana diare yang utama adalah mengganti cairan yang keluar. ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat diberikan jika diperlukan.

Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya telah lama ada. WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada, rasionalitas tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih terarah. Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu. Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi (vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?).

Tahu ngga moms, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan obat berbentuk puyer. Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan bayi kita. Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan yang saya ceritakan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk obat anti demam bila ada indikasi. Jadi setiap kunjungan ke tenaga kesehatan, pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.

ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi ini. Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi anak-anak kita bukan ?

Jadi, kalau si kecil panas demam atau diare, coba amati dulu frekuensi BAB dan warnanya, apakah si kecil lebih rewel atau masih aktif seperti biasa, yang terpenting disini adalah bagaimana kita mensikapi demam dan diare pada anak. Lebih dari 3 hari, segera bawa si kecil ke dokter ya🙂

beberapa informasi dikutip dari berbagai sumber

0

Kembali Mesra dengan Suami

Peran ibu memang lebih kompleks dari sekadar multitasking. Perempuan terlatih membagi waktu dan perhatiannya sebagai istri, ibu, dan diri sendiri. Apalagi jika urusannya sudah menyangkut anak, kaum ibu menjadikan sang buah hati sebagai prioritas utama. Lantas bagaimana dengan romantisme, apalagi kehidupan seks dengan suami pasca-melahirkan?

Seberapa cepat Anda bisa kembali ke kehidupan seksual yang normal setelah melahirkan? Jawabannya tentu sangat variatif. Secara medis, jika Anda melahirkan normal dengan prosedur episiotomi (penyayatan pada bibir vagina untuk mempermudah jalan lahir bayi), Anda sebaiknya menunggu tiga hingga empat minggu agar lukanya sembuh sebelum berhubungan seksual. Jika Anda melalui prosedur operasi cesar, Anda dianjurkan menunggu setidaknya empat minggu saat jahitan di perut Anda sudah sembuh total. Karena uterus membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk kembali ke fungsi normalnya setelah melahirkan, kebanyakan dokter kandungan menyarankan Anda menunggu hingga enam minggu.

Bahkan jika dokter sudah membolehkan Anda kembali berhubungan seksual, jangan harap Anda akan langsung bisa menikmatinya. Kebanyakan perempuan akan mengeluhkan rasa sakit untuk beberapa waktu. Lamanya masa penyembuhan akan dipengaruhi faktor fisik dan psikis sehingga akan berbeda-beda pada setiap perempuan.

  • Hormonal. Kadar hormon di tubuh Anda mungkin memerlukan waktu lebih lama dari enam minggu sebelum kembali normal, apalagi jika Anda menyusui. Jadi jangan panik jika belum berhasrat untuk bercinta dengan suami meski sudah lewat enam minggu.
  • Perubahan struktur keluarga. Dengan kehadiran bayi di keluarga (apalagi jika anak pertama), akan ada banyak perubahan dalam ritme kehidupan rumah tangga. Kebanyakan ibu baru, dan para ayah juga, merasa kelelahan dan kurang tidur karena mengurus bayi. Akibatnya, keinginan untuk bermesraan berdua juga sangat jauh dari pikiran.
  • Perasaan rendah diri atau kurang percaya diri yang timbul karena perubahan bentuk tubuh pasca-hamil dan melahirkan.

Apa yang dapat Anda dan pasangan lakukan?

  • Bersabarlah. Hal yang terpenting adalah selalu membicarakan perasaan Anda dengan suami dan sering-sering mencuri waktu untuk berdua. Jangan terlalu memaksakan diri, mungkin Anda bisa mengawali romantisme dengan pijatan aromaterapi, atau bahkan sekedar berpelukan mesra di tempat tidur.
  • Siapkan waktu khusus. Pilih saat dimana Anda berdua masih segar dan belum mengantuk. Sore hari di akhir pekan (saat si bayi tengah tidur siang), bisa menjadi pilihan. Karena Anda yang paling memahami rutinitas si kecil, aturlah jadwal terbaik yang bisa dinikmati berdua dengan pasangan.

Penulis buku The Mominatrix’s Guide to Sex, Kristen Chase, menyarankan sebaiknya lakukan sejumlah pendekatan untuk menjaga kehidupan seks. Ada beberapa cara praktis untuk menggairahkan kembali hasrat seks pasca-melahirkan:

1. Lupakan aturan seks pasca-melahirkan setelah enam minggu
Ada anggapan bahwa, enam minggu setelah melahirkan, vagina mulai normal dan kondisi fisik sudah siap untuk memulai aktivitas seks kembali. Sejumlah perempuan memang bisa pulih dalam waktu enam minggu. Namun, kebanyakan perempuan tidak mengalami hal ini. Jangan bandingkan kondisi Anda dengan yang lain karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Kesiapan fisik bukan satu-satunya faktor untuk kembali beraktivitas seks. Kesiapan emosi dan intimasi juga memengaruhi kapan Anda kembali mengambil peran sebagai istri dalam hubungan seks dengan suami.

2. Suami-istri perlu menjaga kedekatan emosi
Setiap hari, kesibukan mengurus anak, rumah tangga, dan pekerjaan akan terus berulang. Akan lebih mudah jika Anda dan suami saling memberikan perhatian setiap hari. Cami Zimmer, pakar hubungan berpasangan di Minneapolis, mengatakan bahwa kedekatan emosi bisa dibangun oleh suami-istri. Misalkan, di tengah kesibukan, suami-istri membiasakan untuk selalu saling menatap, tersenyum, berciuman yang bukan sekadar pamitan saat berangkat kerja, dan berpegangan tangan. Gestur sederhana ini memberikan efek kedekatan, rasa aman, dan rasa tak sendirian.

3. Hubungan harmonis hanya untuk anak Anda
Ayah dan ibu yang bahagia memberikan perasaan aman bagi anak-anak. Untuk menciptakan hubungan suami-istri bahagia, bagian utamanya adalah menjaga hubungan seks agar tetap bergairah. Jika fokus utamanya adalah anak-anak, maka hubungan seks dengan pasangan akan lebih memiliki tujuan. Niatan kuat untuk selalu terlihat positif di mata anak-anak menjadi alasan yang tak terbantahkan bagi suami-istri untuk lebih sering menjaga intimasi, dengan hubungan seks tentunya.

4. Buatlah tantangan seks dan berikan target
Menetapkan target juga bisa diterapkan dalam frekuensi hubungan seks. Sepakati dengan suami untuk membuat tantangan seks, baik dari frekuensi berhubungan maupun gaya hubungan seks. Cara ini bisa membantu pasangan meningkatkan gairah seksnya. Artinya, tak melulu harus berhubungan badan setiap hari, tetapi bisa juga dengan memakai lingerie yang cantik saat mau tidur atau memuji tubuh suami yang terlihat masih terlatih. Sempatkan juga menonton pertunjukan yang “seksi” bareng suami. Tantangan seks ini bisa membangun Anda dan pasangan.

5. Lakukan hal spontan
Melakukan hal spontan untuk keluar dari rutinitas sehari-hari tak melulu harus sesuatu yang besar dan makan biaya, misalnya bulan madu kedua ke Bali. Zimmer menyarankan untuk melakukan hal spontan yang lain dari biasanya. Pergilah ke supermarket bersama pasangan, beli bahan makanan, dan coba resep baru di rumah. Menjalani aktivitas di luar kebiasaan bisa menyenangkan atau malah menimbulkan masalah. Ini tergantung cara Anda dan pasangan dalam menyikapinya. Prinsipnya, luangkan waktu bersama untuk berbagi momen yang membangun intimasi.

6. Berilah perhatian kepada diri sendiri
Anda pasti memiliki definisi sendiri untuk perawatan diri, yaitu mendatangi pusat kebugaran, ke salon untuk mani-pedi, atau bermain futsal bersama teman-temannya (untuk suami). Apa pun bentuknya, luangkan waktu untuk diri sendiri. Chase mengatakan bahwa cara Anda dalam menghargai dan merasa nyaman dengan diri sendiri akan memengaruhi aktivitas seks dengan pasangan. Jadi, selalu berikan ruang bagi pasangan untuk menikmati waktunya sendiri.

7. Jadwalkan kencan menjelang malam
Kencan bagi orangtua menjadi penting untuk meningkatkan kedekatan emosi, tak melulu dengan makan malam bersama dan menitipkan anak ke orangtua. Coba lakukan kencan di rumah setelah anak-anak tidur, mandi bersama, bermain games yang Anda berdua sepakati, menyewa film kesukaan, lalu duduk berdampingan dengan sedikit pelukan dan sentuhan kecil; lebih sederhana bukan?

8. Selalu komunikasi dengan pasangan
Anda dan pasangan tidak akan pernah menemukan kesesuaian mengenai apa yang Anda butuhkan tanpa adanya komunikasi. Lakukan komunikasi sesering mungkin, termasuk dalam hubungan seks. Katakan apa yang membuat Anda bergairah atau tidak bergairah. Ketika Anda terlalu lelah mengurus anak dan rumah, dan suami kurang memberi perhatian untuk membantu, katakan saja. Soalnya, ketika kelelahan, Anda juga menjadi tidak mood untuk melakukan aktivitas seksual. (kompas.com)

Jika setelah beberapa bulan Anda tetap belum berhasrat untuk kembali bermesraan dengan suami, dan hal ini merisaukan Anda berdua, bicarakan dengan dokter.

Catatan Penting:
Hanya karena Anda baru saja melahirkan, bukan berarti Anda tidak bisa langsung hamil kembali. Jika Anda berdua belum berencana menambah momongan, ingat untuk menggunakan alat kontrasepsi yang telah Anda diskusikan dengan dokter kandungan. 

dikutip dari berbagai sumber

 

0

ih, ko koloh..

Wedew, jagoan saya mas riza, sekarang hobby banget ngemut jempol atau kata orang jawa koloh, entah bagaimana asal mulanya, mas riza jadi seneng banget ngemut jari-jemarinya. Entah itu yang kanan atau yang kiri. Awalnya saya selalu melepaskan emutan nya atau memegang tangannya biar nda koloh, tapi ternyata tetep aja dengan manisnya tu jempol diemut. Akhirnya dengan berat hati saya pun melonggarkan aturan, asal bukan tangan kiri yang di emut (dengan pertimbangan nantinya tangan kiri akan digunakan untuk cebok atau yang lain yang kotor2 :p )

Tapi ternyata bayi memang mengemut jari sebagai tahapan perkembangan psikososialnya, dan seiring bertambahnya usia, ia akan menemukan keasyikan yang lain yang sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif,motorik dan sosial- emosional.

Seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud, yaitu seorang ahli psikoanalisa terkemuka menjelaskan lebih jauh, bahwa refleks mengisap merupakan cerminan dari fase oral yang sedang terjadi pada bayi. Fase yang berlangsung sejak bayi lahir hingga usia 18 bulan ini membuat bayi mendapat kepuasan lewat sensasi di sekitar mulutnya.

Berdasar teori tersebut, baru dikatakan tidak wajar bila lewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan ngenyot jari. Dengan alasan itu, Maria Herlina Limyati, Psi.,dari Fakultas Psikologi UKRIDA, Jakarta Barat, berpendapat, orangtua tidak perlu terlalu memusingkan kebiasaan si kecil ini, “Toh, nanti jika usianya sudah lewat dari fase oral, bayi dapat berhenti ngenyot jari.”

Maria mengakui kalau ada beberapa ahli yang memiliki pendapat berseberangan. Mereka menganggap kebiasaan ngenyot jari ini harus dicegah dan dihilangkan karena akan berdampak buruk. Selain pertumbuhan gigi bayi kelak terganggu, secara psikologis anak pun akan sulit meninggalkan kebiasaan ini karena ia keburu merasa aman dan nyaman (secure feeling). Ngenyot jari pun berubah dari suatu kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan. Selanjutnya, bila kebiasaan ini terus terbawa hingga anak besar, ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep diri si anak.

Dan dari hasil penelitian yang dilakukan American Dental Assosiation, terbukti sebagian besar anak yang mengisap jempol (bahkan hingga usia 5­6 tahun) tidak mengalami kerusakan gigi atau gusi dan gigi permanen. Secara psikologis pun mereka tetap tumbuh dengan baik.

Kerusakan pada gigi hanya dapat terjadi bila kebiasaan mengisap jari/jempol dilakukan secara agresif (dengan cara mendorong-dorong lidah ke depan hingga mengenai gigi). Namun, bayi biasanya tidak akan melakukan perilaku ini kecuali oleh anak-nak yang sudah besar (balita). Jadi sekali lagi, selama kebiasaan mengisap jari/jempol merupakan bagian dari proses pertumbuhan bayi (karena masih dalam fase oral), maka tak perlu melarangnya. Menghentikan kebiasaan ngenyot jari mungkin justru akan sia-sia jika terlalu dipaksakan. Semakin dilarang, keinginan bayi untuk mengisap jari makin besar. Untuk itu, biarkanlah bayi menghentikan kebiasaannya itu secara alami dan atas dasar keinginannya sendiri.

Pesan Maria, saat si kecil dalam fase oral, pastikan jari dan benda di sekeliling si kecil (yang bisa dia pegang dan masukkan ke dalam mulut) keadaan bersih dan higienis. “Kebiasaan ini bila tidak dijaga bisa membuahkan infeksi pada si kecil, karena dia ngenyot jarinya yang kotormengandung kuman.”

 Meski begitu mengemut jari inipun ternyata memiliki banyak manfaat, antara lain :

  •  Menumbuhkan rasa nyaman dan aman
  •  Menimbulkan kelekatan antara ibu dan bayi
  •  Membantu tumbuh kembang bayi
  •  Mengasah indera perasa bayi
  •  Menjadi percaya diri merasa diterima lingkungan

Namun sebelum kebablasan hingga usia 12 bulan, coba bunda amati dan pahami lagi kapan si kecil koloh atau mengisap jempolnya

  •  Masa ketergantungan yaitu ketika bayi merasa haus/lapar, sebelum sempat mengemut  jarinya segera penuhi kebutuhannya
  • Masa agresivitas bisa dengan mengalihkan perhatian bayi dengan biskuit atau mainan yang aman dan bersih (teether)
Ada pula hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi intensitas bayi mengemut jari:
1. Alihkan perhatian pada aktivitas lain. Contoh, kalau kebiasaannyangenyot itu muncul setiap ia sedang menganggur atau bosan, cobalah ajak ia bermain.
2. Apabila ia mengemutnya saat sedang gelisah atau sedih dengan tujuan menenangkan dirinya sendiri, posisikanlah diri kita sebagai si penenang, alias pengganti jari yang diemutnya. Beri ia perhatian lebih, entah itu dengan belaian, sapaan dan kata sayang yang bisa menenangkan hatinya sehingga ia lupa untuk mengemut.
3. Bila kebiasaan itu muncul setiap kali ia lapar, perhatikan jam biologisnya. Jika tampak tanda-tanda ia lapar, ajak bayi menyusu ASI atau makan dengan menu makanan favoritnya (bila memang sudah masuk dalam tahapan makan makanan semipadat/padat).
4. Jangan mengganti kebiasaan ngenyot jari dengan empeng. Empeng hanya memberi kepuasan palsu dan dikhawatirkan efek psikologisnya terbawa terus sampai dewasa.
5. Jika si kecil sudah agak besar (sudah bisa duduk sendiri) lakukan hal di bawah ini:- Kenalkan cara minum menggunakan gelas.- Jelaskan kebiasaan bahwa ngenyot jari dapat berakibat buruk. Seperti kuman bisa masuk ke dalam tubuh bila tangannya tidak bersih, dan sebagainya.- Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
Beberapa bunda pun berinisiatif menggunakan empeng. Tetapi, bunda juga harus berhati-hati karena penggunaan empeng memiliki sisi positif dan negatifnya. Proses mengempeng memang masih diberikan untuk memenuhi kebutuhan bayi dan memberikan ketenangan. Selain itu, jika bayi menggunakan empeng cenderung lebih mudah dihentikan dibandingkan jika menggunakan jarinya. Namun, empeng dapat menyebabkan ketergantungan dan masalah pada pertumbuhan gigi.The American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan, bila bayi masih disusui ibunya, tunda pemberian empeng karena dapat mengganggu proses menyusui. Tunda hingga proses menyusui berjalan baik. Selain itu, cegah bayi tergantung pada empeng dengan memberikan empeng hanya pada saat-saat tertentu saja.
Nah, jadilah saya biarkan mas riza masih dengan kegemarannya, paling=paling saya alihkan dengan bermain atau bernyanyi🙂
dikutip dari berbagai sumber
0

love you

Hidung sentrap-sentrup dari kemaren, badan pun panas dingin.Saya itu tipe yang susah tertular atau terkena flu, tapi kalo flu sudah hinggap, pasti saya tepar, cuma bisa guling-gulingan di tempat tidur. Karena hanya bertiga dirumah, saya, suami dan mas riza, akhirna suami mengalah dan minta ijin kantor mengantar saya kedokter, serta mengasuh si kecil. Alhamdulillah, sorenya setelah minum obat, rasana badan jadi enakkan, kasian juga kalo saya sakit, siapa yang mengurus si kecil.

Makasih ya yah, udah jagain bunda n mas riza,makasih juga ya mas, pinter deh jagoan bunda, tau aja bunda lagi K.O jadi nempel sama ayahnya🙂 Love you both :*



0

mom n kids

mom : hayo abis main beresin mainannya, atau bunda buang nanti

kids : buang aja

mom : ….

 

mom : makan yang banyak ya, biar cepet besar

kids : ngga mau ah, tar kalo besar ngga dibeliin boneka

mom : ….

 

mom : duh, anak ini bandelnya kaya sapa sih

kids : kata bunda aku mirip bunda

mom : …..

 

mom : besarnya mau jadi apa sayang ?

kids : jadi anak solehah donk

mom : …. (alhamdulillah ya..sesuatu banget)

 

*kids..nowadays😀 taken from family and surrounding conversations :p

 

 

0

bisik-bisik tetangga

istri : yang bener donk, baju kotor taro dikeranjang, jangan sembarangan taro

suami : yang bener donk, aku kerja buat kita, jangan buat shopping sembarangan

istri : …. (silent)

 

istri : jangan makan pete atau jengkol lagi ya, bau

suami : kamu juga, minum jamu atau pake sabun sana, bau

istri : …. (silent)

 

istri : pokoknya aku mau pulang minggu depan, biar kamu tau cape nya ibu rumah tangga

suami : bulan depan aku berhenti kerja, jadi kamu aja yang cari duit ya

istri : …. (silent)

 

istri : coba donk ke dokter, masa kita belum punya anak juga sih

suami : kamu aja udah bikin pusing, apalagi tiruanmu

istri : …. (silent)

 

 

*dont take it seriously yah, just overheard

**pesan moral : lebih baik bersuara pelan, daripada dunia mendengar (nguping)